Bahaya !! bacan gan
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a22ad6b1&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=471&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a22ad6b1' border='0' alt='' /></a>
Metro
Jadikan Teman | Kirim Pesan
Indah Meitasari
Waspada Bahaya Laten Game Online !
REP | 10 June 2011 | 00:11Siang itu beberapa ibu baru saja selesai mengikuti pengajian yang diselenggarakan di kawasan pemukiman elit di daerah Ragunan, Jakarta Selatan. Seperti biasa, selesai mengaji, mereka menikmati makan siang sambil berbincang-bincang tentang bebagai hal. Ada satu hal yang memprihatinkan dalam benak para ibu-ibu muda ini, yakni penyakit kecanduan yang melanda anak, keponakan, sepupu dan bahkan teman. Kecanduan yang mencemaskan mereka adalah Kecanduan terhadap Game Online.
Bagaimana tidak cemas, bahwa ternyata kecanduan game online itu, sudah seperti kecanduan narkoba. Salah satunya bercerita bahwa keponakannya sedemikian kecanduan, sehingga lupa makan, tidak bisa tidur dan temperamental. Sikapnya berubah, dari sebelumnya anak yang “manis” lalu berubah menjadi emosional. Sering meledak-ledak bila bicara dan penuh kemarahan. Dunianya hanya untuk bermain game saja. Yang memprihatinkan adalah, orangtuanya tidak mampu. Anak yang duduk di bangku SMA kelas 1 itu senantiasa bermain game online yang tersedia di warung internet. Tidak ada komputer dirumahnya. Hingga akhirnya orangtuanya kewalahan dan tidak memberi uang sepeserpun. Tidak bisa main game, anak itu berubah seperti sakau, tangannya gemetaran dan giginya gemeretak, membanting pintu, kakinya menendang-nendang barang yang ada dihadapannya, bicaranya kasar dan penuh kemarahan. Beberapa hari kemudian, anak itu ketahuan tertangkap tangan mengutil barang di supermarket. Ketika di interogasi, dia mengaku bahwa hasil curiannya dijual lagi, dan uangnya digunakan untuk bermain game online.
Kisah tersebut disambung dengan kisah serupa lainnya. Seorang ibu bercerita, awalnya dia senang anaknya jarang main diluar karena asyik di depan komputer. Namun ternyata lama-lama si ibu malah sedih, karena anaknya tidak mau bersosialisasi. Tidak mau diajak bepergian. Bila akhir pekan dia biasa mengajak puteranya jalan-jalan atau mengunjungi kakek neneknya, kini asyik dengan dunianya sendiri. Bila terpaksa harus bepergian dia tidak bisa jauh-jauh dari komputer dan internet. Pernah saat diajak menginap di luar kota, tempat yang pertama dicari dan dituju oleh puteranya adalah warnet yang ada game online.
Satu kisah yang benar-benar membuat prihatin adalah kisah sahabatku, yang mendapat teguran dari sekolah puteranya karena beberapa hari tidak masuk sekolah. Dirinya mencurigai bahwa anaknya yang duduk di kelas 2 SMA itu pasti bolos untuk bermain game di warnet. Benar saja, dia menyaksikan anaknya beserta teman-temannya sedang bermain di warnet yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya dikawasan Bintaro. Warnet itu penuh dengan anak-anak sekolah yang masih mengenakan seragam sekolah. Karuan saja dia menegur penjaga warnet yang membiarkan anak-anak bermain game disaat jam sekolah, lengkap dengan seragam sekolahnya.
Parahnya lagi, gejala “sakau” itu juga terlihat didiri puteranya. Dan bahkan mogok sekolah. Dibujuk, dipaksa bahkan berbagai cara ditempuh agar mau kembali bersekolah tidak berhasil. Pandangan matanya nanar, hidup tanpa semangat, dunianya benar-benar di dunia maya. Temanku beserta suaminya sibuk mencari sekolah untuk memindahkan puteranya. Dia berhasil menemukan sekolah yang bagus, dengan fasilitas yang luar biasa bagus, guru-guru yang sebagian besar “bule”. Puluhan juta rupiah dikeluarkan untuk memindahkan puteranya ke sekolah tersebut. Mereka bersyukur, saat itu puteranya bersedia pindah sekolah. Seperti punya bayi, penuh suka cita mereka mengantarkan puteranya kesekolah. Bahkan mereka boleh memantau dari perpustakaan atau kantin untuk melihat anaknya dari kejauhan.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 3 bulan saja. Anak itu kembali mogok sekolah. Benar-benar sudah terganggu jiwa dan pikirannya. Bila tengah malam menyelinap keluar. Atau ketika bepergian, dia keluar begitu saja saat mobilnya berhenti. Kaget, sedih, takut dan bingung melanda pasangan suami isteri ini. Padahal puteranya cerdas, dengan IQ 135.
Mereka pergi ke psikolog, lalu ke ahli hipnoterapi, namun belum berhasil. Kini anak tersebut dalam pengawasan dan terapi psikiater. Menurut dokter, anaknya terkena video addict syndrome atau kecanduan video game yang tarafnya sama dengan kecanduan narkoba. Salah satu syaraf otaknya terganggu dan cenderung menjadi psikosis. Butuh penanganan serius, seperti di Belanda, Korea atau Cina yang bahkan sudah ada klinik rehabilitasi khusus anak-anak kecanduan video game karena jumlahnya dari waktu ke waktu terus meningkat.
Temanku menyelidiki, apa yang ada di dalam game online itu. Dia melacak jenis apa yang disukai oleh anak-anak. Ternyata game yang disukai, sarat dengan adegan kekerasan seperti penembakan, pemukulan, tendangan, saling banting. Ada juga game seperti dunia hitam dan perkelahian antar gank. Ada WWF Smack Down, Tekken, Mortal Kombat, Naruto, atau pun Resident Evil. Sedangkan game yang bernuansa dunia hitam dan perkelahian antar geng, kini sedang naik daun. Seperti Mafia, Triad, Yakuza, Bully Scholarship Edition, ManHunt, Crime Life: Gang Wars dan The GodFather. Gambar-gambarnya sangat mengerikan, seperti hidup, ada binatang seperti monster, dengan kuku panjang tajam yang mencakar dan memangsa korbannya disertai suara-suara yang menggelegar, dan penuh suasana mencekam. Itulah yang memicu puteranya seperti berkepribadian ganda, adrenalinnya seperti terpicu terus untuk menuntaskan permainan, stress dan emosinya meledak-ledak.
Sungguh memprihatinkan dan menyedihkan.. ternyata bukan hanya di Jakarta saja, bahkan luar kota, seperti Lampung, Palembang, dan lain-lain kota di Indonesia dimana yang terdapat warnet game online, maka disitu akan ada anak-anak yang kecanduan video game. Bila tidak percaya, silahkan search di google “kecanduan video game”, maka akan ditemukan kisah para orangtua yang anaknya kecanduan game online.
Berbagai masalah kerap terjadi di Indonesia. Namun bila masalah terjadi pada anak-anak, maka kesedihan dan keprihatian akan berlipat ganda rasanya. Mereka tumpuan kita, tidak saja harapan orangtua, tetapi harapan bangsa dan negara yang kelak akan menjadi generasi cerdas dan tangguh yang akan membawa perubahan serta kemajuan untuk Indonesia. Tuhan, tolonglah bangsa ini..
Tulisan ini bukan fiktif, melainkan kisah sebenarnya.
Silahkan di share, silahkan beri masukan dan berbagi kisah serupa
Jakarta, 9 Juni 2011
-Meita-
Gambar yang dicantumkan diambil dari internet
<p>Your browser does not support iframes.</p>
KOMENTAR BERDASARKAN :
Tulis Tanggapan Anda
- KULINER UNIK
Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah
TEREKOMENDASI
-
Sejarah Mencatat “Finalti Bisa Tunda”
Arkilaus Baho | 5 jam yang lalu -
Kasihan Anas Urbaningrum
Florensius Marsudi | 6 jam yang lalu -
Cuti Bersama Ditambah, Kami Resah..
Bambang Suharto | 7 jam yang lalu -
Pesepakbola Malaysia Bakal Jadi Korban LSI?
Syukri Muhammad Syukri | 8 jam yang lalu -
Dendam kepada Orang Tua Jangan Anda Wariskan kepada Anak
Cahyadi Takariawan | 13 jam yang lalu
© 2008 – 2012
Riko Chan
Asrim
Wito Karyono
Dark Knight
Begitu konsentrasinya ia pada game yang sedang ia mainkan, sampai-sampai ia tidak menyadari ibunya meninggal dan kepalanya menghantam salah satu perabotan yang ada, sehingga menyebabkan ibunya hilang kesadaran, padahal ibunya hanya berada kurang dari lima meter dari anaknya. Ia terus bermain walau ibunya telah terjatuh dan tidak lama kemudian meninggal.
Menurut sang bocah, ia sama sekali tidak memperhatikan ibunya, karena sebelum ini, ibunya mendapatkan obat bius dan kemungkinan merupakan penyebab ia jatuh. Bocah tersebut juga mengatakan bahwa ibunya itu terjatuh dan tertidur di lantai. Sedangkan terkait dengan suara saat ibunya menghantam sesuatu, sang anak menyatakan bahwa ia mengira ibunya sedang membalikkan badan di kala tidurnya itu.
Irfan_bimantara